Senin, 27 Mei 2013

Pesan kangen lewat balon merah Jingga



Cerita ini hanya sebuah luapan emosi yang sengaja saya buat dengan maksud ingin menyalurkan tulisan di lembar MC word .
Tidak semua manusia diberikan kemudahan fasilitas, kegantengan maupun kecantikan, salah satunya adalah Bela, mungkin sudah sering kita dengar cerita tentang kisah si buruk rupa dan si ganteng yang lalu kisah nya berujung happy ending, No! This is not the story of the beautiful and the ugly!. Tapi tidak dengan ini , Bela merupakan mahasiswi Jurusan Sosiologi di Universitas Negeri Di Jogja, dia bukan anak pintar apalagi kaya. Sebenarnya dia tidak suka dengan Jurusan tersebut, namun apa dikata dengan remaja sekarang “ yang penting kuliah‘’ itu yang dipikiran Bela saat itu. Satu semester telah ia jalani biasa saja menurut dia, karena minat dengan jurusannya pun tidak . Itulah yang membuat dia jenuh. Suatu ketika dia menemukan sosok pria yang menurut dia KLIK, like stars that had come to him baby, dia bernama Aulia teman chating nya yang juga satu Universitas namun beda jurusan dengan nya.
Di sore hari ditepian danau dengan pepohonan yang rindang, Aulia mengajak Bela untuk melihat pemandangan sambil berjalan-jalan. Langkah kaki Aulia terhenti dengan  memegang tangan Bela yang saat itu sedang memegang Hp yang dia bawa. Dengan jiwa kelakiannya Aulia menyatakan cinta kepada Bela,
 “ Bel .. mungkin ini sangat cepat untuk aku katakan padamu, namun aku tak bisa menunggu lama lagi untuk mengatakanya??
Dan Bela pun menanggapi pertanyaan dari Aulia, “ memang kamu mau mengatakan apa kepadaku?? ’’dengan bingung dan sedikit menerka-nerka,
“aku sayang kamu Bel?’’ dengan lirih lembut  mengatakanya.
“Apa? kamu bergurau ya au?” Sebutan untuk Aulia sambil melihatkan pipi yang kemudian  memerah karena malu.,
Dan Bela yang sudah sekian lama tidak menjalin hubungan dengan siapapun akhirnya mendapat suatu  kepastian  yang dia pikir merupakan jodoh nya kelak. Bahagia pun datang padanya. Tak begitu lama mereka pendekatan, akhirnya mereka jadian. Dan disinilah awal Bela menjadi bebas tanpa suatu tekanan dari siapapun. Aulia seperti mengajarkan suatu kehidupan yang baru dengan perbedaan pendapat yang dapat menyatukan dua orang menjadi satu. Seperti  mimpi saja Bela ini, mendapatkan apa yang dia mau. Seorang pria yang membuat dirinya selalu bahagia, tapi this is not his problem !
Menjadi bahagia untuk diri sendiri dan sesaat bukanlah tujuan hidup yang pokok. Tapi mejadikan kehidupan bermanfaat adalah hal yang utama. Baru seminggu Bela merasakan senang, dikejutkan dengan berita yang membuatnya sangat geram dan marah. Ternayata Aulia merupakan pacar dari teman dekatnya. Yang Bela pikirkan adalah untuk siapa dia berada dan penting mana antara Aulia yang sekarang sudah jadi pacarnya atau teman dekat nya . Bela langsung menghubungi Aulia yang saat itu sedang di kampus untuk menanyakan kepastian hubungan apa yang terjadi antara dirinya dengan teman dekatnya.
Aulia dengan tenang mengatakan,
 “ dia atau teman dekatmu adalah bagian dari masa laluku yang aku rasa tidak bisa diteruskan kembali kisah ini, namun dengan kamu aku sungguh sungguh mencintaimu”
Bela pun menjadi galau dengan keadaan ini, memilih antara teman dekat atau pacarnya. Tanpa berat hati Bela memilih dengan pacarnya, dan dengan kata lain dia semenjak saat itu bermusuhan dengan teman dekatnya itu.
 “ Bukan masalah siapa yang menang mendapatkan hati Aulia, tapi aku hanya menuruti kata hatiku ini” gumam Bela dalam hati,
Semenjak saat itu keaadaan kembali normal dengan tetap besama Aulia yang dia sayang, tetapi sayang saja tidak cukup bukan? Apakah hidup akan bermodal cinta saja, tentu saja tidak. Apalagi agam mereka berbeda satu sama lain. Awal nya mereka tidak memikirkan itu semua, tapi hal kecil seperti itu sering mereka ributkan, terutama Bela yang bingung dengan hubungan yang semakin lama semakin tidak jelas. Aulia semakin sibuk dengan dunianya dan sedangkan Bela yang ingin diperhatikan terasa tersingkirkan dan di nomor duakan dari sisi Aulia.
         
Continue....

Sabtu, 25 Mei 2013

Surat Untuk Tuhan, yang belum terbaca


Surat untuk Tuhan,
Aku bingung, mengapa sesuatu yang aku tak duga muncul begitu saja. Apakah ini takdir ataukah cobaan, tapi sungguh.. ini membuat ku sangat frustasi dan membuatku sakit dalam otak. Ingin ku ikut  ayah saja.. ketika ibu saja tak mempercayai ku. Lalu????? Dengan siapa lagi aku berkeluh kesah... bahkan yang ku anggap orang yang aku percaya saja, dia tak mau dengar keluh kesah ku. Sungguh tak adil hidup ini. Dengan siapa lagi aku sedihh ??? saat tak da orang yang mau mendengarkanku?
Tuhan.. apa kau dengar aku? Cuma engkau satu nya yang aku punya saat ini saat tak ada lagi yang mendengarkan ku, apa arti dari semua ini Tuhan ? apakah aku sangata berdosa, pakah tak ada rongga kecil untuk ibuku untuk mempercayai ku lagi? Apakah sumpah ku ini tak dipercayai ibu?
 Lalu dimanakah sisi adil itu ada Tuhan ?
Aku menyerah karena keadaan ini, aku benar benar sendiri saat ini ... tak ada yang menemaniku... aku benci semua ini Tuhan... Tuhan ku... aku ini Islam, aku mengakui Tuhan ku itu enggkau... ALLAH SWT... aku tau engkau menguji hambanya sesuia kemampuan nya, tapi Tuhan... saat ini aku benar benar menyerah dengan keadaan ini... Aku mohon padamu ya Alloh ... Tunjukan aku titik terang yang membuat ku bahagia dan ceria kembali Tuhan L

Minggu, 05 Mei 2013

Sekedar ingin berdiam untukmu

Mungkin, perpisahan adalah cara Tuhan yang belum kita pahami, untuk mengajari kita tak lagi menyia-nyiakan pertemuan. 
Aku bukan gampang nangis ataupun cengeng .. 
tapi hati ini terlalu perasa. 
Hanya diamlah yang menunjukan rasa menangisku yang kutunjukan untuk menujukan ke dirimu , cukup simple bukan ?
cukup sakit untuk ku rasakan . Diam ku adalah rasa sakit ku , sedih mu juga rasa sebalku,
Salahkah jika kita memperjuangkan cinta?
bukan nya salah , melainkan suatu yang aku pertahankan kali ini tak berujung pengharapan, melainkan saling menyakiti ,ya kan sayang ?
Aku penggemarmu nomor satu, yang tak pernah ingin ketinggalan kabarmu meskipun segalanya kuperhatikan dalam diam.
Seperti berjalan menuju satu arah, meskipun sedang melawan arus. Bisa kau bayangkan rasanya ? Saat ini namamu masih terucap dalam doaku, masih ada air mata untuk mengingatmu , masih mencelahkan ruang untukmu ?
Masih kah kau ingat besok tanggal berapa ?
masih kah kau ingat di tanggal itu kita 14 bulan ?
atau kau sudah lupa semua itu , aku tak ingin berkata apapun untuk meminta minta agar kau mengerti . sekarang aku ingin diam saja . jika saja kau bisa pahami rasa sakit itu . pasti kau mengerti . Jika saja rasa sayang mu sama seperti rasa cintaku , pasti kau tak akan seperti ini.