Jumat, 22 November 2013

halaman 7 : Dokter mulai memvonisku, Tuhan yang menentukan



Waktu menunjukan pukul 10 siang,  mataharipun semakin terik di kulit. Mereka menyapaku dalam sapaan anonym yang mereka buat. Tak mengerti jalan yang Tuhan berikan untuk hari ini, yang ada aku hanya menerima kenyataan kemarin, ketika dokter mevonisku dengan sakit yang tak sakit namun akan berdampak dikemudian hari. Suara dokter itu dengan tegas menyatakannya kepadaku. Melihat sudut mataku yang tak tau apa yang ada dipikirannya. Aku menjawab apa yang dokter katakana, menekanku dibagaian yang paling menyesakan dalam pikiran.

Dokter itu berkata ;

“dengarkan dulu apa yang saya bilang ! masalah kamu itu serius?! Jangan ngeyel kalau ga tau“

 tapi yang aku tau Dokter itu bukan seperti itu, perkataannya seperti seorang dictator yang ingin menerkam. Kulihat sudut ruangan itu, melihat keheningan saat dokter itu berkata.  

Kalian tau apa yang dokter itu katakana??
“ anak sejarah tau apa tentang dunia kedokteran ?!’ sontak aku pun kaget dengan pernyataan itu, namun aku melihat ibuku…. Ku coba untuk meredam emosi yang terjadi kemarin. Bukannya aku tak bisa membantah, namun sebagai anak yang punya etika aku pun dia setelah itu. Namun dalam hati ingin rasanya aku bunuh dokter itu !

Ada masalah lain dengan semua itu, aku teringat terus dengan apa yang dokter katakana tentang masalahku. Aku ingin menangis, namun ketika aku menangis itu akan membuat beban untuk ibuku. Aku harus kuat di situasi ini. Masalah ini sebenarnya sangat komplek dengan kehidupanku kelak. Namun tak bisa aku ceritakan terhadap siapapun termasuk teman. 

Namun seperti yang ibu katakan kemarin ,

“ dokter itu manusia, tak ada yang tau rencana Tuhan”

Akupun sedikit lega dengan pernyataan ibu seperti itu, rasanya sesak sekali dalam pikiranku. Namun aku hanya bisa tersenyum dengan masalah ini dan berusaha agar aku lepas dari masalah tersebut. 

Meski aku punya pacar, tapi bukan pacarku sepenuhnya. Namun aku tak bisa ceritakan kepadanya. Apa yang aku rasa cukup aku, Tuhan dan keluargaku. Sungguh miris juga ketika aku tersandung dengan hati yang sudah dimiliki. Apa salahnya lagi dengan apa yang terjadi. Mereka hanya ingin membuatku seperti boneka yang ke dua, dibutuhkan untuk pelampiasan kesepian mereka, aku muak dengan maslah seperti ini.

Mencoba menerima dengan apa yang terjadi. Namun aku yakin suatu saat nanti pasti ada pria single yang Tuhan kasih untukku. 

Yang akan meluangkan waktunya hanya untukku, yang hanya memberikan cinta hanya pada satu wanita.  :)


Kamis, 21 November 2013

halaman 6 : Kembang Sepatu Menyakitiku Juga

Udara malam ini tidak panas tidak dingin. Namun aku masih bertanya kelanjutan hubunganku dengan kembang sepatu. Yang kutau kembang sepatu telah lebih dulu bersama si lebah. Aku tak bisa memaksakan kembang sepatu meninggalkan lebah…. Ini mungkin sebuah pilihan dimana taka da plihan lagi untuk memili. Aku si kumbang yang tak tau harus berbuat apa, mundur aku salah.. maju aku juga salah. Lebah yang malang, nasibnya seperti itu.. kembang sepatu tak mempunya pilihan yang jelas, hidup diatara dua pilihan … antara aku dan si lebah.

Mungkin Cuma hatiku saja yang sakitnya seperti ini, mengetahui menjadi nomer dua dan tidak dipentingkan. Kalian bisa merasakan ?

Ya … aku ingin sebuah pilihan dimana cinta itu suci, bukan menyakiti hati yang lain. Aku tau lebah tak mengetahui apa yang terjadi antara aku dan di kembang sepatu. Rasanya seperti di deru ombak yang sedang pasang, ada rasa sakit yang menusuk terkena deburan ombak.
Rasanya air mataku sudah habis, tak menetes lagi dengan hal ini. Aku dipojokkan dengan situasi yang serba salah. Apakah aku harus sendiri lagi?? Ataukah aku harus bertahan bersama ke dua makluk itu?

Oh Tuhan ……………

Apa ini?

Apakah tak akan ada yang mencintai diriku sebagai lebah yang cantik? Waktu itu bangau menyakitiku, apakah si kembang sepatu juga seperti itu?
Menunggu sebuah kepastian*

Rabu, 20 November 2013

Halaman 5 : Ketika Rasa Sayang, Mulai Mengubah Dirimu



Ini adalah seseorang yang mecari kebahagiaan dalam diri orang lain. Seperti hawa yang mencintai adam. Namun pada kenyataannya adam tak mencintai hawa, mungkin lebih baik hawa menyembunyikan rasa cintanya itu dari pada haru lebih jauh lagi bersama Adam..

Itu kisahmu?

Bisa jadi itu kisahmu.... dimana kamu yang mencintai dia, namun hanya bisa kau pendam dalam hati.  Ada rasa menggebu-gebu saat kau menatapnya, melihat senyumnya yang masih menyebar kemana mana. Padahal kau tau, cintamu itu hanya terfokuskan pada satu orang, ya… “ dia “ .

Dia membuatmu sering berhalusinasi ketika berada didekatmu. Mencoba membayangkan ketika kamu berada dekat bersamanya, memegang tanganmu dan membicarakn hal-hal yang intim berdua.  Lamunan yang akan membuatmu semakin lupa daratan. Yang aku tahu, daratan tak semulus apa yang di imajinasikan, membuat sakit saat terbangun dalam imajinasi liat itu. Seketika mimpi itu berhenti ditengah jalan ketika mata kuliah sedang berjalan, membuatmu semakin tak konsentrasi dengan apa yang sedang kau tekuni dalam proses pembelajaran perkuliahan.

Lalu dirimu ketagihan dengan mimpi-mimpi fatamorgana, semakin larut dalam sebuat mimpi. Itu membuatmu menjadi galau, galau dengan apa yang ada pada dirimu. Pada apa yang kau miliki saat ini. Sersering mungkin kamu bercermin, melihat bentuk tubuhmu, muka mu sampai senyumanmu, dilihat semakin jelek saja ( dalam pikiranmu ) lalu kau mengintepretasikan kepada jatuh cintamu itu yang diam-daiam..

Ini sungguh membuatmu tak mensyukuri kehidupan yang selayaknya kau sukuri, dia buakan siapa-siapa. Dia tak berhak membautmu menjadi minder dengan sosokmu yang ceria, yang mengagumkan.  Apa yang di dalam dirimu itu sempurna. Dia yang tak melihatmu mencintainya bukan karena Tuhan tak menjodohkanmu dengan dia. Namun belum saatnya saja dirimu mendapatkan apa yang belum seharusnya kau dapatkan. 


Terlampau sayang. Terlampau cinta. Sesuatu yang “terlampau” dan “berlebihan” akan merugikan.
           

Halaman 4 : Si Kembang Sepatu mengalihkan kegalauanku



Ku teruskan lagi perjalanan dalam perjalan di persimpangan hati. Ku temukan hati yang bisu disemak semak sana. Ternyata hati itu sudah sejak dulu ada dalam sudut jiwaku, namun keberadaannya tak kunjung ku sentuh. Hingga akhirnya si kumbang mendekati bunga sepatu itu. Yang dari dulu setia menemani si kumbang yang mencari yang tak pasti, ternyata bunga sepatu sangat menyayanginya.

Dan ku tau dia adalah seseorang yang sudah ku kenal, namu tak dekat di hati. Entah mengapa terjadi perubahan dibeberapa hari ini. Apakah aku menyerah dengan masa laluku dengan mawar merah yang ta akan bersama lagi. Lalu mempasrahkan dengan yang lain??

Aku pun tak tau, banyak yang berlalu lalang..pergi lalu kembali lalu datang lagi. Namun Bungan sepatu sudah lama menemaniku sejak aku bersama si mawar itu. Mengiyakan hati yang tertunduk sepi. Aku bingung, apakah aku bisa mencintai selain dia. Tapi yang aku tau aku memang sudah lama sebatas mengenalnya. 

Mungkin ini saatnya aku menyedari ada orang yang mencintai apa adanya, namun masih dalam teka-teki apakah si kembang sepatu masih bersama lebah. Kembang sepatu tak pernah mengungkit hidupnya itu, membuat ada kebimbangan diantara hati yang terbelah dua, yang tadinya jiwa yang dibukatakan cinta, namun hanya samar-samar saja.

Yang kemari mampir dihati .. akhirnya pergi juga lagi. Mungkin persinggahan sedang dibutuhkannya. Dan aku adalah persinggahan yang dia singgahi. Aku pun sedikit kecewa, namun kekecewaan adalah hal yang akan membuat sia-sia. Banyak hal yang menyenangkan yang akan membuatku senang. aku ingin perlahan lahan bersama si kembang sepatu, menjalin sebuah hubungan yang baik sampai akhir tua nanti. 

Namun sosoknya yang dulu, tiba-tiba muncul lagi… dia memunculkan diri dan berkata “kangen masa lalu” . apa yang kau harapkan masa lalu ? yang ku tau masa lalu hanya sebuah bayangan yang terlintas cepat lewat dihadapanku. Namun dia pergi dan datang sendiri. Mengetahui diriku masih mengharapkannya. Atau sebatas kasihan melihatku sendiri tanpa batas.

Berika aku kesempatan untuk bersama si kembang sepatu, menerawang hal baru dalam hidup. Tak bermalu-maluan dibelakang layar. Namun inilah kami, masih bertatap di luar layar. Namun masih menjadi sebuah misteri yang masih tersembunyi antara si kembang sepatu dan si lebah, apakah yang terjadi dalam hubungannya? Apakah aku hanya dibihongi di melodi kehidupannya. 

Aku pun masih belum paham. Yang aku tau aku belajar menyayanginya, apakah aku memang menyayanginya ataukah aku masih berharap kepada bangau tak berperasaan itu. Perbedaan ku dan si bangau sangatlah berbeda dari nya. Kami berbeda, namun kami masih gengsi untuk menyatakan nya. Dulu.. aku dan bangau tak punya perasaan adalah pasangan yang tak jelas, namun kami jelas-jelaskan dengan hal yang membuatku sekin tak jelas.

Mencoba merangkak dalam hidupnya, menjelajah apa yang bangau inginkan. Kalian mungkin pernah merasakan hal itu. Ketika kamu mencintai seseorang yang orang itu tak mengerti apa yang harusnya di cintai. Bangau adalah sosok yang simple namun gede gengsinya. Ingin segalanya namun tak bisa ia realisasikan dengan ku  “ kumbang” . 

Upss… kali ini bukan bangau yang ingin ku ceritakan, namun si kembang sepatu mengalihkan perhatiaku. Mengalihkan mata dan hati tertuju pada sosoknya yang indah setelah ku lihat-lihat beberapa kali. Setelah si kembang sepatu mengatakan “ bodoh mencintai orang yang tak mencintaiku “ dari situ aku mulai memikirkan perkataanya yang sedikit menggoyahkan hati. Dan kini aku mencoba memulai untuk menyayangi si Kembang Sepatu .
 
“ Cintailah orang yang mencintaimu, jangan mencari orang yang tak memperhatikanmu ketika kamu membuatuhkannya “

Minggu, 17 November 2013

Halaman 3 : Menyempurnakan Kesepian



Diselimuti hujan yang teriknya tergantikan oleh air yang menetes derasnya dari langit. Mencoba memahami keadaan yang mulai berganti. Denting suara hati, menglas kembali jejak yang lalu. Dan aku ingin abadikan seseorang itu di tempat yang indah. Kuletakan senyumnya dalam sebuah museum hati. Ketika malam datang, aku  menyadari kau tak akan kembali dalam wujud aslimu itu. Samar sama bayangan itu datang lalu hilang kembali. Tuhan kembalikan segalanya tentang dia, seperti sediakala. 

Waktu bergerak dengan cepat, yang aku kira lambat mendadak menjadi monster yang bergerak cepat mendekatiku.  Sering ku berfikir kau akan kembali dengan dirimu yang baru, namu tak akan mungkin terjadi. Merajut kata menjadi KITA tak akan pernah mampu lagi. Bayangannya semakin samar-samar hilang. Namun dengan mu aku rasa aku sempurna, walau ku tau itu hanya aku yang merasa. Mereka yang melihatku seperti aku berada dalam karikatur lukisan . nyata namun tak sama. Itulah perbedaannya. 


Bagaimana perasaan ini kamu tau? setiap kali ingin ku jelaskan, dirimu hanya mengagap hal ini adalah lelucon yang tak perlu didengar. Bagaimana perasaan ini tersalurkan lewat pesan? Kalau kau anggap aku ini sudah menjadi masa lalu mu.  Mendadak aku seperti paranormal yang mengerti apa yang kamu tulis sesaat ketika kamu mengirim pesan untukku. Bertanya akan arti pesan hatiku sampai juga ke hatimu. Harapanku terlalu jauh untuk mengubah semuanya seperti dulu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat masih ada kamu dalam barisan hariku.


Aku coba tulis sebuah kata, yang sering kau ucapkan kepadaku. Membuat miris setiap kata itu. Namun segalanya sudah berubah. Pagi pun mulai menampakan sinarnya, mencoba menghiburku dengan gumpalan awan yang indah. Namun ku hargain mereka yang menawarkan kebahagian baru, menawarkan cinta baru dengan cara mereka. Namun siapa sangka hati tak bisa berbohong menutup luka yang belum kering. 


Perpisahan seperti mendorongku pada realita yang selama ini kutakutkan. Kehilangan mempersatukan aku pada air mata yang seringkali jatuh tanpa sebab. Aku sulit memahami kenyataan bahwa kamu tak lagi ada dalam semestaku, aku semakin tak bisa menerima keadaan yang semakin menyudutkanku. Memecah keramaian dalam sudut hening. Mencoba mengikatku kembali untuk duduk di kursi itu. Menempati senyum di masa lalu. Sepertinya aku belum terbiasa tanpa pergi darimu, meskipun kamu taka da istimewanya untuk orang lain.  Aku mulai tak menyadari siapa diriku tanpamu, setengah dari ragaku telah menjadi milikmu. Namun kamu tak mengembalikan lagi kedalam diriku. Menjadikanku semakin susah untuk melupakanmu.


Tak banyak yang ingin ku jelaskan, karena bukan penjelasan yang ingin ku katakan, namun aku ingin kamu kembali untukku, memeberi senyuman indahmu hanya untukku. .