Diselimuti hujan yang teriknya
tergantikan oleh air yang menetes derasnya dari langit. Mencoba memahami
keadaan yang mulai berganti. Denting suara hati, menglas kembali jejak yang
lalu. Dan aku ingin abadikan seseorang itu di tempat yang indah. Kuletakan senyumnya
dalam sebuah museum hati. Ketika malam datang, aku menyadari kau tak akan kembali dalam wujud
aslimu itu. Samar sama bayangan itu datang lalu hilang kembali. Tuhan
kembalikan segalanya tentang dia, seperti sediakala.
Waktu bergerak dengan cepat, yang aku
kira lambat mendadak menjadi monster yang bergerak cepat mendekatiku. Sering ku berfikir kau akan kembali dengan
dirimu yang baru, namu tak akan mungkin terjadi. Merajut kata menjadi KITA tak
akan pernah mampu lagi. Bayangannya semakin samar-samar hilang. Namun dengan mu
aku rasa aku sempurna, walau ku tau itu hanya aku yang merasa. Mereka yang
melihatku seperti aku berada dalam karikatur lukisan . nyata namun tak sama. Itulah
perbedaannya.
Bagaimana perasaan ini kamu tau? setiap
kali ingin ku jelaskan, dirimu hanya mengagap hal ini adalah lelucon yang tak
perlu didengar. Bagaimana perasaan ini tersalurkan lewat pesan? Kalau kau
anggap aku ini sudah menjadi masa lalu mu. Mendadak aku seperti paranormal yang mengerti
apa yang kamu tulis sesaat ketika kamu mengirim pesan untukku. Bertanya akan
arti pesan hatiku sampai juga ke hatimu. Harapanku terlalu jauh untuk mengubah
semuanya seperti dulu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita
seutuhnya, saat masih ada kamu dalam barisan hariku.
Aku coba tulis sebuah kata, yang sering
kau ucapkan kepadaku. Membuat miris setiap kata itu. Namun segalanya sudah
berubah. Pagi pun mulai menampakan sinarnya, mencoba menghiburku dengan
gumpalan awan yang indah. Namun ku hargain mereka yang menawarkan kebahagian
baru, menawarkan cinta baru dengan cara mereka. Namun siapa sangka hati tak
bisa berbohong menutup luka yang belum kering.
Perpisahan seperti mendorongku pada
realita yang selama ini kutakutkan. Kehilangan mempersatukan aku pada air mata
yang seringkali jatuh tanpa sebab. Aku sulit memahami kenyataan bahwa kamu tak
lagi ada dalam semestaku, aku semakin tak bisa menerima keadaan yang semakin
menyudutkanku. Memecah keramaian dalam sudut hening. Mencoba mengikatku kembali
untuk duduk di kursi itu. Menempati senyum di masa lalu. Sepertinya aku belum
terbiasa tanpa pergi darimu, meskipun kamu taka da istimewanya untuk orang
lain. Aku mulai tak menyadari siapa
diriku tanpamu, setengah dari ragaku telah menjadi milikmu. Namun kamu tak
mengembalikan lagi kedalam diriku. Menjadikanku semakin susah untuk melupakanmu.
Tak banyak yang ingin ku jelaskan,
karena bukan penjelasan yang ingin ku katakan, namun aku ingin kamu kembali
untukku, memeberi senyuman indahmu hanya untukku. .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar