Minggu, 17 November 2013

Halaman 3 : Menyempurnakan Kesepian



Diselimuti hujan yang teriknya tergantikan oleh air yang menetes derasnya dari langit. Mencoba memahami keadaan yang mulai berganti. Denting suara hati, menglas kembali jejak yang lalu. Dan aku ingin abadikan seseorang itu di tempat yang indah. Kuletakan senyumnya dalam sebuah museum hati. Ketika malam datang, aku  menyadari kau tak akan kembali dalam wujud aslimu itu. Samar sama bayangan itu datang lalu hilang kembali. Tuhan kembalikan segalanya tentang dia, seperti sediakala. 

Waktu bergerak dengan cepat, yang aku kira lambat mendadak menjadi monster yang bergerak cepat mendekatiku.  Sering ku berfikir kau akan kembali dengan dirimu yang baru, namu tak akan mungkin terjadi. Merajut kata menjadi KITA tak akan pernah mampu lagi. Bayangannya semakin samar-samar hilang. Namun dengan mu aku rasa aku sempurna, walau ku tau itu hanya aku yang merasa. Mereka yang melihatku seperti aku berada dalam karikatur lukisan . nyata namun tak sama. Itulah perbedaannya. 


Bagaimana perasaan ini kamu tau? setiap kali ingin ku jelaskan, dirimu hanya mengagap hal ini adalah lelucon yang tak perlu didengar. Bagaimana perasaan ini tersalurkan lewat pesan? Kalau kau anggap aku ini sudah menjadi masa lalu mu.  Mendadak aku seperti paranormal yang mengerti apa yang kamu tulis sesaat ketika kamu mengirim pesan untukku. Bertanya akan arti pesan hatiku sampai juga ke hatimu. Harapanku terlalu jauh untuk mengubah semuanya seperti dulu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat masih ada kamu dalam barisan hariku.


Aku coba tulis sebuah kata, yang sering kau ucapkan kepadaku. Membuat miris setiap kata itu. Namun segalanya sudah berubah. Pagi pun mulai menampakan sinarnya, mencoba menghiburku dengan gumpalan awan yang indah. Namun ku hargain mereka yang menawarkan kebahagian baru, menawarkan cinta baru dengan cara mereka. Namun siapa sangka hati tak bisa berbohong menutup luka yang belum kering. 


Perpisahan seperti mendorongku pada realita yang selama ini kutakutkan. Kehilangan mempersatukan aku pada air mata yang seringkali jatuh tanpa sebab. Aku sulit memahami kenyataan bahwa kamu tak lagi ada dalam semestaku, aku semakin tak bisa menerima keadaan yang semakin menyudutkanku. Memecah keramaian dalam sudut hening. Mencoba mengikatku kembali untuk duduk di kursi itu. Menempati senyum di masa lalu. Sepertinya aku belum terbiasa tanpa pergi darimu, meskipun kamu taka da istimewanya untuk orang lain.  Aku mulai tak menyadari siapa diriku tanpamu, setengah dari ragaku telah menjadi milikmu. Namun kamu tak mengembalikan lagi kedalam diriku. Menjadikanku semakin susah untuk melupakanmu.


Tak banyak yang ingin ku jelaskan, karena bukan penjelasan yang ingin ku katakan, namun aku ingin kamu kembali untukku, memeberi senyuman indahmu hanya untukku. .

Tidak ada komentar: