Ini
bukan tentang isi skripsiku nanti, namun ini adalah harapan sewaktu aku ingin
dia datang diseminar proposal skripsi. Dua minggu lalu mungkin aku masih bisa
bermimpi dirimu ada diruang itu dan duduk menyaksikanku untuk sebuah ujian
pertamaku. Mimpiku itu membuat diriku semakin bersemangat dan ingin rasanya aku
berkata “datanglah ke seminar ku’’, tapi ya sudahlah itu sudah lewat.dirinya
tak akan menyapa lagi dalam hariku-hariku. Matanyapun tak akan berseri nlagi
melihatku. Aku akan berjuang meneruskan langkah sendiri tanpanya, iya tanpanya.
Mengubur harapan untuk hariku-hariku bersamanya. Kenyataan sekarang adalah aku
harus berdiri sendiri, bersemagat sendiri sambil ditemani lantunan doa dari
ibuku yang sangat menyayangiku. Aku menyadari, kasih sayang orang tua lebih
harus ku perhatikan, pikirkanlah apa yang beliau kobankan untukku. Aku banyak
habiskan semua tenaganya semata mata untuk mengidupiku disini. Apakah itu bukan
cinta yang tulus ?
Ayo
sadar, ini bukan masalah perhitungan waktu atau perhitungan biaya, ini adalah
tulus iklasnya seorang ibu kepada anaknya. Aku melewatkan masa kasih sayang
itu, dengan menghabisi perasaanku dengan cinta yang tak pernah pasti. Tentang cinta
yang berjanji namun tetap saja terselipkan janji palsu. Tuhanpun senantiasa
melindungiku dalam pangkuannya, menyadarkanku agar selalu mengingatnya setiap
senang maupun susah. Sekarang aku hanya melakukan untuk menyibukan diri bersibuk-ria
dengan tugas –tugas kuliah dan tugas akhirku. Membunuh rasa sepi yang menusuk hingga hati ini tak lagi bisa
menangis. Sebuah janji memang asik dan nyaman untuk didengar, apalagi tentang
sebuah janji hati yang tak akan pernah pergi dari hidup seseoran. Sebuah cinta
yang tak ingin lagi kudengar ialah ketika cinta itu kutaruh pada seseorang yang
salah. Namun akupun tak mengerti, disaat ku lihat itu baik, namun kenyataanpun
sama. Iya … sama saja menusuk hati, namun hanya kubalas dengan senyum riang. Menghabiskan
waktuku untuk selalu tersenyum. Bergabung dengan teman-teman lainya untuk
menyebarkan senyum tawa yang riang, semata-mata untuk menutupi rasa sedih
dihati.
Aku
sadar, hati ini bukan untuk dijajah, penjajahan sudah lewat diwaktu silam.
Mereka yang merasa patah hati yang tak kunjung henti mungkin hatinya sedang
dijajah oleh perasaan sendiri.Merasa paling suram dunianya, padahal dunianya
adalah dunia milik orang tuanya, ketika mereka sadar barulah rasa sedih dihati
akan hilang. Sebentar lagi umur ini bertambah pula, tak pantas pula aku
menangisi seseorang yang datang dan pergi memasuki hati ini. Tuhan, aku tidak
ingin kado apa-apa, aku hanya ingin bahagiakan ibuku dengan menemukan seseorang
yang tepat untuk mendampingiku dan menjaga orangtua tunggalku (ibu), dan teruntuk
yang di surga sana.. aku yakin kau melihatku dengan penuh rasa sayang (ayah),
maafkan anakmu ini yang selalu menyalahkanmu ketika dunia berpaling dariku. Maafkan
ketidakdewasaanku………