Rabu, 29 Oktober 2014

Membunuh Sepi : Rasa Skripsi




Ini bukan tentang isi skripsiku nanti, namun ini adalah harapan sewaktu aku ingin dia datang diseminar proposal skripsi. Dua minggu lalu mungkin aku masih bisa bermimpi dirimu ada diruang itu dan duduk menyaksikanku untuk sebuah ujian pertamaku. Mimpiku itu membuat diriku semakin bersemangat dan ingin rasanya aku berkata “datanglah ke seminar ku’’, tapi ya sudahlah itu sudah lewat.dirinya tak akan menyapa lagi dalam hariku-hariku. Matanyapun tak akan berseri nlagi melihatku. Aku akan berjuang meneruskan langkah sendiri tanpanya, iya tanpanya. Mengubur harapan untuk hariku-hariku bersamanya. Kenyataan sekarang adalah aku harus berdiri sendiri, bersemagat sendiri sambil ditemani lantunan doa dari ibuku yang sangat menyayangiku. Aku menyadari, kasih sayang orang tua lebih harus ku perhatikan, pikirkanlah apa yang beliau kobankan untukku. Aku banyak habiskan semua tenaganya semata mata untuk mengidupiku disini. Apakah itu bukan cinta yang tulus ?

Ayo sadar, ini bukan masalah perhitungan waktu atau perhitungan biaya, ini adalah tulus iklasnya seorang ibu kepada anaknya. Aku melewatkan masa kasih sayang itu, dengan menghabisi perasaanku dengan cinta yang tak pernah pasti. Tentang cinta yang berjanji namun tetap saja terselipkan janji palsu. Tuhanpun senantiasa melindungiku dalam pangkuannya, menyadarkanku agar selalu mengingatnya setiap senang maupun susah. Sekarang aku hanya melakukan untuk menyibukan diri bersibuk-ria dengan tugas –tugas kuliah dan tugas akhirku. Membunuh rasa sepi yang  menusuk hingga hati ini tak lagi bisa menangis. Sebuah janji memang asik dan nyaman untuk didengar, apalagi tentang sebuah janji hati yang tak akan pernah pergi dari hidup seseoran. Sebuah cinta yang tak ingin lagi kudengar ialah ketika cinta itu kutaruh pada seseorang yang salah. Namun akupun tak mengerti, disaat ku lihat itu baik, namun kenyataanpun sama. Iya … sama saja menusuk hati, namun hanya kubalas dengan senyum riang. Menghabiskan waktuku untuk selalu tersenyum. Bergabung dengan teman-teman lainya untuk menyebarkan senyum tawa yang riang, semata-mata untuk menutupi rasa sedih dihati. 

Aku sadar, hati ini bukan untuk dijajah, penjajahan sudah lewat diwaktu silam. Mereka yang merasa patah hati yang tak kunjung henti mungkin hatinya sedang dijajah oleh perasaan sendiri.Merasa paling suram dunianya, padahal dunianya adalah dunia milik orang tuanya, ketika mereka sadar barulah rasa sedih dihati akan hilang. Sebentar lagi umur ini bertambah pula, tak pantas pula aku menangisi seseorang yang datang dan pergi memasuki hati ini. Tuhan, aku tidak ingin kado apa-apa, aku hanya ingin bahagiakan ibuku dengan menemukan seseorang yang tepat untuk mendampingiku dan menjaga orangtua tunggalku (ibu), dan teruntuk yang di surga sana.. aku yakin kau melihatku dengan penuh rasa sayang (ayah), maafkan anakmu ini yang selalu menyalahkanmu ketika dunia berpaling dariku. Maafkan ketidakdewasaanku………

Tidak ada komentar: