BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan
adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan
positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang, dan pendidikan nasional
Indonesia adalah pendidikan yang berakar pada pencapaian tujuan pembangunan
nasional Indonesia.
Pada
dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai
kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian,
karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan perdaban manusia yang
terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki
potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupan.
Pada
masa yang telah lewat, dunia pendidikan terus berubah. Kompetensi yang
dibutuhkan oleh masyarakat terus menerus berubah, apalagi di dalam dunia
terbuka, yaitu di dalam dunia modern dalam era globalisasi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
arti pendidikan menurut beberapa ahli?
2. Kendala pendidikan di Indonesia?
3. Bagaimana
tentang kenyataan praktek pendidikan di Indonesia?
C. Tujuan
1.
Mengetahui arti pendidikan
2.
Mengetahui problema pendidikan yang terjadi di
Indonesia
3.
Mengetahui kondisi pendidikan di Indonesia
4.
Menambah wawasan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Arti
Pendidikan Menurut Berbagai Macam Ahli
Menurut John Dewey dalam bukunya Democracy and Education (1950: 89-90),
pendidikan adalah rekontruksi atau reorganisasi pengalaman yang menambah makna
pengalaman, dan yang menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman
selanjutnya. Frederick Mayer dalam bukunya Foundations
of Education (1963: 5) menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang
menuntun pencerahan umat manusia.
Menurut G. Terry Page, J.B Thomas
dan AR. Marshall dalam International
Dictionary of Education (1980: 112), pendidikan adalah proses perkembangan
kemampuan dan perilaku manusia secara keseluruhan. Menurut Ki Hajar Dewantara
(1977: 20) pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak.
Sedangkan menurut Driyarkara (1980: 78) intisari atau eidos dari pendidikan
ialah pe-manusia-an manusia muda.
Menurut
pengertian Yunani pendidikan adalah ‘’Pedagogik’’ yaitu ilmu menuntun anak.
Bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan atau
menuntun tindakan untuk merealasasikan potensi anak. Bangsa Jerman melihat
pendidikan sebagai Erziehung yang
setara dengan educare, yaitu:
membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam
bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah
kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah
kepribadian sang anak.
B.
Kendala pendidikan
di Indonesia
Ada sejumlah tantangan yang di
hadapi oleh pembangunan pendidikan Indonesia pada masa-masa selanjutnya, yaitu
:
·
Belum mempunyai pendidikan mengimbangi perubahan struktur
ekonomi dari pertanian tradisional ke indrustri dan jasa
·
Masih rendahnya relevansi pendidikan
·
Masih rendah dan belum meratanya mutu pendidikan
·
Masih tingginya angka putus sekolah dan tinggal kelas yang
mengakibatkan ketidakstabilan dalam penyelenggaraan pendidikan
·
Masih banyaknya kelompok untuk 10 tahun keatas yang buta huruf
·
Masih kurangnya peran serta dunia usaha dalam pendidikan.
Ada kendala yang dihadapi dalam
peningkatan kinerja pendidikan nasional, yaitu:
§ Dari pihak masyarakat, kendala
tersebut adalah kemiskinan dan keterbelakangan yang berkaitan dengan masih
rendah nya penghargaan akan pendidikan pada sebagian kelompok masyarakat
§ Terbatasnya jumlah guru yang bermutu
disamping penyebarannya yang tidak merata
§ Terbatasnya sarana prasarana
§ Manajemen sistem pendidikan yang
belum secara terarah menuju peningkatan mutu,relevansi,dan efesiensi
pendidikan.
Dalam rangka menciptakan sistem
pendidikan nasional yang mantap, berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan
nasional, serta mampu menjawab tantangan masa kini dan masa depan, pendidikan nasional
dewasa ini terus ditata dan dikembangkan dengan memberikan prioritas pada aspek-aspek
yang dipandang strategis bagi masa depan bangsa. Prioritas tersebut adalah
pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang bersamaan dengan
peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi pada semua jenis, jenjang, dan jalur
pendidikan.
C. KONDISI PENDIDIKAN PADA ERA GLOBALISASI
Memasuki abad ke- 21 dunia
pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh
kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena
kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini
disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.
Salah satunya adalah memasuki abad
ke- 21 gelombang globslisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan
perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi
berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia
terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan Negara lain.
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan Negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karana itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di Negara-negara lain.
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan Negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karana itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di Negara-negara lain.
Setelah kita amati, Nampak jelas
bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah
rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan
formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu
pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai
keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Ada banyak penyabab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efesiensi pendidikan, dan masalah relevansi pendidkan.
Ada banyak penyabab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efesiensi pendidikan, dan masalah relevansi pendidkan.
Ada banyak penyabab mengapa mutu
pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai
rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini
adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.
a. EFEKTIFITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA
Pendidikan yang efektif adalah suatu
pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah,
menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan
demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat
meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Selama ini, banyak pendapat
beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk
membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil
pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanak
pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dinaggap hebat oleh masyarakat.
Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di
Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunya kelebihan di bidangnya
masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan
minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan di bidang sosial dan dipaksa mangikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.
Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan di bidang sosial dan dipaksa mangikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.
b. EFISIENSI PENGAJARAN DI INDONESIA
Efisien adalah bagaimana
menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’.
Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk
memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu
jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang
mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaiman dapat meraih stendar hasil yang
telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Masalah mahalnya biaya pendidikan di
Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di
Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang
tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap
pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika
penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.
Jika kita berbiara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.
Jika kita berbiara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.
Selain masalah mahalnya biaya
pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey
lapangan, dapat kami lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative
lebih lama jika dibandingkan Negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah
menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari
pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien,
karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan
formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang
mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan
sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut
tidak efektif juga, Karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal
untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.
Selain itu, masalah lain efisienfi
pengajarn yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar
jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan
dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.
Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.
Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.
Sistem pendidikan yang baik juga
berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat
disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan
pendidik dan peserta didik.
Dalam beberapa tahun belakangan ini,
kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum
berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan
aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga
mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan
terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan
jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu
langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.
c. STANDARDISASI PENDIDIKAN DI
INDONESIA
Jika kita ingin meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran
yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang
akan diambil.
Dunia pendidikan terus berudah.
Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di
dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi.
Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga
pendidikan haruslah memenuhi standar.
Seperti yang kita lihat sekarang
ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat
hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur
oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga
dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut
seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Tinjauan terhadap sandardisasi dan
kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam
pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan
yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan
pendidikan tersebut.
Peserta didik Indonesia terkadang
hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan
bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak
perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang
diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja. Hal seperti di atas sangat
disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena
terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab
rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.
Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas.
Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.
Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas.
Banyak hal yang menyebabkan
rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan
jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita
mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di
Indonesia.
d. Analisa Kritik
Terhadap Praktek Pendidikan di Indonesia
Secara awam, guru disebut seseorang
yang menguasai sebuah bidang ilmu pengetahuan dan berkewajiban mentransfer ilmu
pengetahuan tersebut. Guru dalam pandangan Freire tidak hanya menjadi tenaga
pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik, tetapi mereka harus
memerankan dirinya sebagai pekerja budaya. Guru harus mempunyai kesadartan
penuh bahwasannya pendidikan itu mempunyai dua kekuatan sekaligus, yakni
sebagai aksi kultural untuk pembebasan atau sebagai aksi kultural untuk
dominasi dan hegemoni dan sebagai hegemoni dan sebagai medium untuk memproduksi
sistem sosial yang baru atau sebagai medium untuk memproduksi status quo.
Sumber daya pendidik, guru, menjadi
kunci utama keberhasilan pendidikan. Di Indonesia, guru seakan-akan menjadi
satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik. Melihat kebutuhan semacam itu,
guru harus mempunyai sesosok yang mumpuni dalam menjalankan fungsinya. Guru
tidak saja berijasah S1 ataupun D2 atau S2. Peserta didik tidak membutuhkan
selembar kertas yang menyatakan guru mereka telah lulusan dari pendidikan
sarjana ataupun lainnya. Guru harus melaksanakan pendidikan yang sempurna
melalui pengajaran-pengajaran yang telah direncanakan. Bagaimana pendidikan
yang harus dilaksanakan oleh seorang guru melalui sebuah pengajaran?
Guru secara profesional melaksanakan
kegiatan pengajaran. Guru harus menciptakan sebuah suasana pembelajaran yang
mampu membawa peserta didik mereka menjadi pribadi yang optimal dan bukan
memberikan pembelajaran yang membelenggu yang hanya transfer pengetahuan dari
guru ke peserta didik.
Kenyataan bahwa masih banyak guru di
Indonesia yang tidak memiliki dasar yang kuat akan konsep dasar dari pendidikan
sehingga pola mengajar dari guru-guru tersebut terkesan hanya asal-asalan tidak
dapat dipungkiri lagi. Guru hanya mengajar setoran nilai ke kepala sekolah dan
dinas. Hal tersebut disebabkan karena paradigma yang salah di masyarakat
Indonesia yakni keberhasilan peserta didik hanya dilihat dari potensi akademik.
Kondisi tersebut membawa keadaan
dimana guru hanya menerapkan pembelajaran searah, pembelajaran yang
memberlakukan guru sebagai subjek dan peserta didik sebagai objek. Interaksi
dalam proses pembelajaran adalah interaksi atasan dan bawahan. Tidak sedikit
guru di Indonesia hanya peduli untuk memasukkan pengetahuan ke peserta didik
dengan alas an mengajar semata. Dengan pembelajaran monoton yakni ceramah
dilanjutkan mencatat kemudian drill soal dan akhirnya latihan-latihan soal
mendorong peserta didik menjadi sesosok yang pandai menghapal sesaat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada dasarnya pendidikan adalah
laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapanpun, sepanjang ada
kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan
bagian dari kebudayaan dan perdaban manusia yang terus berkembang.
Di dalam pendidikan juga terdapat
adanya kendala-kendala. Kondisi pendidikan pada era globalisasi ini terdapat
pula kehebohan, kehebohan bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional
tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan
pendidikan di Indonesia.
Ada juga banyak penyabab mengapa mutu
pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan
yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah efektifitas, efisiensi dan
standardisasi pengajaran. Analisa kritik terhadap praktek pendidikan di
Indonesia juga perlu dipertimbangkan, karena selama ini guru hanya melakukan
pembelajaran secara monoton.
Kenyataan
bahwa masih banyak guru di Indonesia yang tidak memiliki dasar yang kuat akan
konsep dasar dari pendidikan sehingga pola mengajar dari guru-guru tersebut
terkesan hanya asal-asalan tidak dapat dipungkiri lagi. Guru hanya mengajar
setoran nilai ke kepala sekolah dan dinas. Hal tersebut disebabkan karena
paradigma yang salah di masyarakat Indonesia yakni keberhasilan peserta didik
hanya dilihat dari potensi akademik.
DAFTAR PUSTAKA
Abduhak,Ishak;Supriyadi;Wahyudin,Dinn,2007,PengantarPendidikan,Jakarta:Universitas Terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar