Sabtu, 02 Juni 2012

Makalah Candi Brahu


BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Setelah Kertanegara meninggal dunia karena serangan dari raja Jayakatwang, Raden Wijaya, menantu raja Kertanegara berusaha melanjutkan dinasti Singhasari. Raden Wijaya berhasil melarikan diri dari serangan Jyakatwang dan mengungsi ke desa Kudadu. Disana ia bersama prajuritnya mendapat perlakuan yang sangat baik dari kepala desa Kudadu,. Mereka diberi tempat tinggal untuk berteduh dan di jamu makanan. Setelah itu Raden Wijaya melanjutkan perjalanan ke Madura untuk meminta bantuan Arya Wiraraja. Disana Raden Wijaya diterima dengan baik, Raden Wijaya diberi nasihat Arya Wiraraja yaitu dengan berpura-pura mengabdikan dirinya kepada raja Jayakatwang.
 Berkat bantuan Arya Wiraraja, Raden Wijaya berhasil diterima dan ia diberikan tanah di daerah Tarik untuk di jadikan tanah daerah perburuan karena raja Jayakatwang mempunyai hobi berburu binatang. Sementara itu, Arya Wiraraja mengerahkan penduduk Madura untuk menghuni tanah Tarik tersebut. Seiring berjalanya waktu, tanah tersebut di jadikan tempat untuk menyusun kekuatan Raden Wijaya ..    
Kekuatan yang berhasil disusun Raden Wijaya tidak diketahui raja  Jakatwang. Hingga akhirnya kedatangan tentara Tar-Tar di manfaatkan Raden Wijaya untuk menghancurkan Jayakatwang. Tentara Tar-Tar dating untuk membalas dendam pada aja Krtanegara atas penghinaan yang dilakukan pada Kubilai Khan. Dengan meninggalnya Krtanegra, maka Jayakatwang lah yang diserang tentara Tar-Tar. Pertempuran di menangkan Raden Wijaya dan Tentara Tar-Tar. Dan akhirnya ketika Tentara Tar-Tar sedang merayakan kemenanganya , Tentara Raden Wijay menggempurnya dan Terntara Tar-Tar pulang kembali ke negeri asalnya, yaitu Cina.Tanah Traik tersebut diberi nama Majapahit, Raden Wijaya menjadi Raja pertama di Majapahit. Ia, naik tahta pada tahun 1294 M.[1]
Kerajaan Majapahit berlangsung kurang lebih selama tiga abad. Dalam waktu tiga abad ini banyak hasil kebudayaan yang ditinggalkan/ diwariskan kepada kita. Peninggalan-peninggalan dari periode Majapahit itu antara lain berupa bekas keraton, candi beserta arcanya, gapura,- gapura, maupun kesastraan.
Salah satu peninggalan kerajaan Majapahit adalah Candi Brahu, bahkan Candi Brahu ini di anggap lebih tua dari pada kerajaan Majapahit itu sendiri. Letaknya di desa Bejijong. Candi Brahu telah banyak mengalami kerusakan, hampir semua sisi dan bagian atasnya mengalami kerusakan , terutama bagian depan. Candi Brahu dibuat dari batu bata, maka sukar sekali direkonstruksi. Pada candi Brahu ini batu bata yang asli banyak yang telah lepas dari candi atau bahkan ada yang sudah hilang.
Candi Brahu berdenah bujur sangkar, menghadap ke barat. Pada keempat sisinya terdapat penampil (bagian yang menjorok keluar). Ruang yang menghadap ke barat merupakan ruang utama, disini terdapat altar (tempat sesaji) tetapi dinding temboknya sudah runtuh. Menurut cerita rakyat candi Brahu adalah makam dari raja Brawijaya I sampai dengan IV.

B.   RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana asal mula candi Brahu ?
2.    Bagaimana sejarah tentang candi Brahu?
3.    Bagaimana kehidupan sosial masyarakat disekeliling lokasi candi Brahu?



C.   TUJUAN
1.    Untuk mejelaskan asal mula candi Brahu.
2.    Untuk mengetahui sejarah candi Brahu.
3.    Untuk mengetahui kehidupan masyarakat disekitar candi Brahu.

D.   MANFAAT
1.    Dapat memberikan pengetahuan mengenai asal mula  candi Brahu.
2.    Dapat memberikan pengetahuan tentang sejarah candi Brahu
3.    Dapat memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat sekitar candi Brahu

                                                                              BAB II
PEMBAHASAN
1.    ASAL MULA CANDI BRAHU
a.    Letak
Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto., propinsi Jawa Timur. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang, terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit .Namun telah diaspal.  Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya.[2]
b.    Struktur bangunan
Struktur  bangunan candi  Brahu terdiri dari kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Kaki candi terdiri dari bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai atas. Bingkai tersebut terdiri dari pelipit rata, sisi genta dan setengah lingkaran. Dari penelitian yang terdapat pada kaki candi diketahui terdapat susunan bata yang strukturnya terpisah, diduga sebagai kaki candi yang dibangun pada masa sebelumnya. Ukuran kaki candi lama ini 17,5 x 17 m. Dengan demikian struktur kaki yang sekarang merupakan tambahan dari bangunan sebelumnya. Kaki candi Brahu terdiri dari dua tingkat dengan  selasarnya serta tangga di sisi barat yang belum diketahui bentuknya dengan jelas.
 Bentuk tubuh candi Brahu tidak tegas persegi,  melainkan bersudut banyak,  tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak  berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar. Candi Brahu dibangun dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok.
Bagian tubuh candi Brahu sebagian besar merupakan susunan  batu bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda. Sebagian besar candi-candi di Trowulan dibangun menggunakan batu bata merah, karena mengandung unsur religi atau kepercayaan..
Candi Brahu berukuran tinggi 27 m, didalamnya terdapat bilik berukuran 4x4 m,.Namun kondisi lantainya telah rusak.  Di kompleks candi ada semacam altar yang berbentuk Mahameru. Pada waktu pembongkaran struktur bata pada bilik ini ditemukan sisa-sisa arang yang kemudian dianalisa di Pusat Penelitian Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Yogyakarta. Hasil analisa  tersebut menunjukkan bahwa pertanggalan radio karbon arang candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410 hingga 1646 M.
Sebagai bahan perbandingan, cirri-ciri candi Jawa Timur adalah bentuk bangunannya ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan, puncaknya berbentuk kubus, makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala, reliefnya timbul sedikit saja dan lukisanya simbolis menyerupai wayang kulit, letak candi di belakang halaman, kebanyakan menghadap ke barat, sebagian besar terbuat dari batu bata merah[3]
Atap candi Brahu tingginya kurang lebih 6 m. Pada sudut tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa. Berdasarkan  gaya bangunan serta profil sisa hiasan yang berdenah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa, para ahli menduga bahwa candi Brahu bersifat Budhis. Selain itu diperkirakan candi Brahu umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi-candi yang ada di situs Trowulan bahkan lebih tua dari kerajaan Majapahit itu sendiri. Dasar dugaan ini adalah prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan kira-kira sekitar 45 m di sebelah barat   candi  Brahu. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja Empu Sendok dari Kahuripan pada tahun 861 Saka atau 9 September 939 M. Diantara isinya menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu wanaru atau warahu. Nama istilah inilah yang diduga sebagai asal nama candi Brahu sekarang.
Dari reliefnya, candi ini adalah gambaran sinkretisme keagamaan antara agama Hindu dan agama Budha, Awalnya candi ini berfungsi sebagai tempat pembakaran raja-raja Majapahit . Namun  asumsi tersebut tidak terbukti. Dan dengan gambaran sinkretisme tersebut, hingga saat ini pemeliharaan candi Brahu dilakukan oleh kedua agama tersebut.
 Berbeda dengan ritual pemujaan pada situs pemujaan lainnya, di sini aktifitas tersebut dilakukan hanya dengan cara meletakkan sesaji pada bagian depan dan pintu candi yang menghadap ke arah barat.
Meskipun tidak terbukti, menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah dari raja Brawijaya I sampai IV. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.
Candi Brahu tidak berdiri sendiri, disekitarnya terdapat bangunan candi-candi lain, yaitu candi Gentong Gedong dan candi Tengah. Di antara ketiga candi itu, hanya candi Gentong yang masih terlihat sisa-sisanya, dan terletak di sebelah timur candi Brahu. Di sekitar candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain :
* benda-benda semisal perhiasan dari emas dan perak.
* 6 buah arca yang bersifat agama Budha.
* piring perak yang bagian bawah bertuliskan tulisan  kuno.
* 4 lempeng prasati tembaga dari jaman sindok.
2. SEJARAH CANDI BRAHU
Candi Brahu sudah dibangun sebelum masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan diperkirakan di bangun pada masa raja Brawijaya I. Dapat dikatakan bahwa Candi Brahu merupakan candi yang paling tua dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang ada di Trowulan.  Candi ini merupakan pandarmaan dari raja Brawijaya, mulai dari yang pertama sampai keempat. Memang candi ini telah di restorasi, namun tidak bisa secara utuh karena kesulitan akibat bangunan candi yang terbuat dari batu  bata merah. Bisa dikatakan bahwa bangunan yang sekarang berdiri itu sudah mengalami pembenahan namun tetap masih candi yang lama, hanya sedikit tambahan saja.
Berdasarkan  bentuk  stupa   yang  ada pada sekitar candi, candi Brahu bersifat budhis. Kita tinggalkan dulu mengenai candi Brahu, kita beralih ke Majapahit. Majapahit merupakan sebuah kerajaan yang besar pada masa Hindu-Budha. Majapahit merupakan kerajaan Hindu. Pusatnya dihutan Tarik, dengan raja pertama Raden Wijaya. Masa puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk yang berkolaborasi dengan kejeniusan sang Maha Patih Gajah Mada dengan gagasan Nusantaranya. Banyak peninggalan-peninggalan Majapahit yang terkenal di Trowulan, mulai dari candi Bajang Ratu sampai candi Brahu. Kami disini sebagai penyusun akan membahas mengenai candi Brahu saja.
Seperti  yang  telah  diterangkan  diatas  bahwa candi Brahu merupakan candi tertua di Trowulan yang dibangun untuk mengenang atau sebagai pendarmaan dari raja Brawijaya yang pertama sampai keempat. Dan juga candi ini ada yang mengatakan unsur budha, namun ada pula campuran dari Sywaisme.
Bisa kita telaah kepada masyarakat  sekitar bahwa mulai dari budaya sampai kesenian berkembang dan bahkan sekarang menjadi sebuah lapangan pekerjaan bagi masyarakat Trowulan. Ada yang ahli lukisan, ada yang ahli patung dan sebagainya. Tentunya ini menjadi sebuah aset budaya yang harus dipertahankan oleh bangsa kita. bahwa kita memiliki sosio-budaya yang menarik dan luar biasa dan tidak kalah bila dibnadingkan dengan bangsa asing. Bisa dilihat pula dengan adanya hal demikian membantu perekonomian masyarakat Trowulan yang secara otomatis akan membantu mengurangi pengangguran di Indonesia. Jikalau Indonesia (dalam hal ini pemerintah) bisa memanfaatkan peninggalan-peninggalan sejarah dengan baik dan mempergunakanya untuk kesejahteraan bangsa kita. Tentunya dengan melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah tersebut tanpa mengurangi fungsi dasarnya. 
Candi Brahu sendiri diperkirakan usianya lebih tua dari kerajaan Majapahit. Hal ini didasarkan pada prasasti  tembaga Alasantan yang ditemukan kira-kira  45 masehi di sebelah barat candi Brahu. Prasasti ini berangka tahun 861 saka atau 9 September 939 Masehi atas perintah raja Empu Sindok dari Kahuripan.
Menurut masyarakat sekitar, candi Brahu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya[4]. Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya “bekas” abu atau mayat, melainkan keadaan bilik candi Brahu yang sekarang sudah kosong.
Disekitar kompleks candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda dari emas, dan arca-arca logam di mana hal tersebut menunjukkan adanya cirri-ciri agama Budha. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa candi Brahu merupakan candi Budha[5].


3. KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR CANDI
Kehidupan sosial masyarakat sekitar candi pada waktu itu(di sekitar candi Brahu) kurang lebih sama seperti daerah kehidupan sosial masyarakat sekitar peninggalan candi yang lainnya di situs Trowulan.Seperti yang telah diterangkan  oleh pemandu waktu Kuliah Kerja Lapangan 1 Jawa Timur– Bali, masyarakat di sekitar candi Brahu sangat menginternal sekali, di dalam diri mereka kebudayaan serta keahlian para leluhurnya mereka hargai dan mereka terus lestarikan. Dengan adanya regenerisasi kebudayaan tersebut mencerminkan bahwa masyarakat sekitar  candi Brahu sangat menghargai,menghormati, peduli serta menjunjung tinggi  terhadap kebudayaan leluhur mereka.
Perekonomian masyarakat sekitar candi Brahu  sangat terbantu dengan keberadaan candi Brahu tersebut. Masyarakat skitar candi Brahu juga mengenal dan mempercayai adanya hal-hal yang bersifat ghaib. Kepercayaan yang bersifat ghaib tersebut merupakan hal  yang mereka anggap penting  untuk dilakukan demi kepentingan mereka.  
Masyarakat sekitar candi Brahu memiliki keahlian, mereka hidup dengan bertani. Hal ini terlihat seperti terlintas sewaktu hampir sampai di lokasi candi Brahu yaitu lading-ladang yang sangat luas dan siap memanen(pada waktu KKL).
Jadi dapat dikatakan kehidupan sosial mereka juga terpengaruhi oleh kehidupan sosial kehidupan leluhur mereka. Seperti upacara-upacara dalam hal pembangunan bangunan, pembuatan kesenian, dan lain sebagainya. Hal ini tidak hanya dapat ditemikan di Trowulan,melainkan dapat ditemukan  hampir di seluruh wilayah Jawa, kehidupan sosial masyarakat Jawa tidak jauh-jauh dari hal-hal klenik atau sinkreitisme.
 Mereka melakukan upacara-upacara tertentu untuk meng-awali, dalam melakukan kegiatan, dan sesudahmelakukan kegiatan  keseharian, kegiatan-kegiatan musiman, atau upacara-upacara ritual keagamaan. Mereka mempercayai upacara-upacara itu sebagai suatu yang sakral dan merupakan suatu keharusan atau  kewajiban yang apabila tidak mereka lakukan, maka akan menimbulkan terjadinya hal-hal atau sesuatu yang tidak mereka harapkan yang akan merugikan mereka sendiri .







                                                               BAB III
WAWANCARA “ CANDI BRAHU “
Menurut hasil wawancara yang telah dilakukan pada prasasti alasantan, Candi Brahu merupakan candi waharu atau candi pemujaan. Suatu penelitian ada candi kecil ditengah nya, mungkin kalau sekarang mungin kalau orang muslim untuk mushola baru dikembangkan menjadi measjid tetapi musholanya tidak dibongkar dan candi ini merupakan candi yang tertua di Trowulan yang berumur 939, karena prasasti alasantan itu ditemukan barat daya.
 Pada waktu kerajaan Sindo jawa tengah kena Praloyo dia hijrah ke Jawa Timur mendirikan ibu kota di daerah tembelang di daerah Jombang karena di trowulan ada suatu bangunan candi yang di fungsikan untuk acara ritual agama budha dan dijadikan tanah ini tanah sima atau tanah percikan ( tanah bebas pajak ).
 Dan sampai sekarang untuk ritual agama budha prioritasnya ada disini, tapi untuk saat ini masyarakat trowulan tidak ada agama budha. Untuk sampai saat ini ada peninggalan budha tetapi tidak ada penganut agama budha tetapi sebagian besar dari Jawa Tengah dari Muntilan dengan dari Surabaya. Jadi untuk sekarang daerah Trowulan belum ada masyarakat yang menganut aliran agama budha, walaupun ada yayasan budhicenter yang disebut Lumbini, itu pada tahun 85 untuk kawasan Trowulan disiapkan untuk salah satu sarana peribadatan agama budha itu sudah berdiri mulai 85 bahkan mungkin patung budha tidur ada disana. Dasarnya 939, pasti jamanya sendok wangsa isyana.
Sebetulnya kalau dari kerajaan tetap dari Jawa tengah tetapi wangsa yang berbeda. Wangsa isyana itu masuk ke Jawa timur, tapi disini belum ada bedirinya suatu kerajaan atau pemerintahan yang ada. Dan batu bata yang baru itu direnovasi dari kantor kami untuk mencoba merenovasi candi ini dengan prodak batu bata yang baru. Bahwa usaha pelestarian dengan jangka waktu 15 tahun sudah banyak yang runtuh atau hancur dibandingkan prodak yang dihasilkan pada waktu jaman Majapahit. Karena dalam suatu pembuatan suatu bangunan kalo dikaitkan dengan religi itu pasti kualitasnya lebih bagus dibandingkan yang tidak . dan sekarang orang lebih mengalihkan ke khusus atau nilai gunanya, asal jadi atau bisa dipakai dan tidak rumit dalam pembuatanya. Tetapi jaman majapahit tau kerajaan kerajaan lain karena dikaitkan dengan religi maka prodaknya bertahan lama dan sangat kuat walaupun terbuat dari batu bata.
 Melakukan pemujaan cukup di halaman, jadi menghadapnya ke bangunan candi.bagaimana pun batu bata sekuat apapun kalo sering terinjak suatu bangunan akan runtuh. Jadi candi ini hanya untuk memadukan agama hindu dan budha. Jadi perbedaan nya candi budha jawa tengah dan jawa timur adalah reliefnya.
 Tentang nama Brahun sendiri kebetulan ditengah-tengah itu pernah ditemukan abu, dan abu ini setelah di suatau penelitian di Jakarta bahwa abu itu tidak menunjukan candi ini berfungsi salah satu tempat perabuan. Bukan candi pembakaran mayat, dengan ditemukanya abu ditengah itu maka orang trowulan atau masyarakat trowulan menamakan Candi ini candi Brahu, sebenarnya candi Brabu tetapi karena perkembangan perkembangan itu menamakan Candi Brahu. Tetapi dasar Prasastinya, bukan candi Brahu tetapi candi Waharu atau Candi Wrau itu yang ditulis di alasantan itu adalah Candi Wrau.
Sementara ini yang dprioritaskan oleh pemerintah justru tidak ekspasi secara masal, tetapi yang kita selamatkan adalah penemuan dari masyarakat, jadi jika masyarakat melakukan penggalian dan bisa menemukan situs cagar budaya inilah yang baru dprioritaskan. Disebelah Bajangratu ada sebuah kolam yang ditemukan itu juga hasil galian masyarakat. Untuk sampai saat ini kita masih memberikan suatu argument untuk masyarakat trowulan. Tapi untuk bentuk struktur itu masih diabaikan, kecuali proses penemuan baik logam atau kramik yang rawan.  Kita belum bisa membedakan itu candi atau tidak bagi penganggapan masyarakat umum. Padahal yang maksudkan konsep sila dinamakan candi pada suatu bangunan yang dikususkan untuk suatu pemujaan.
 Jadi yang disebutkan bahwa candi itu, candi ini ditemukan atau tidak difungsikan secara sacral upacara pemujaan agama budha. Maka raja wajib menggantikan tanah tersebut tanah Sima. Jadi tidak disebutkan hak milik siapa, kemungkinan berdiri lebih dari 939. Kita lihat saja periodisasi mpu sendok. Dari awal berdirinya itu difungsikan untuk budha pada waktu itu akhirnya berkembang ke Majapahit. Cuma pendirianya awal sebelum Majapahit berdiri, masih digunakan oleh Majapahit karena ini jama hindhu budha sampai sekarang. Jika sedang dilakukan ritual tidak sampai naik ketatas dan hanya di bawah menatap patung Buddha. Kalau orang Hindhu nya jarang sekali mengadakan kegitan disini, paling tidak bajangratu. Tapi tidak menutup kemungkinan dari Bali juga mengadakan ritual disini, kita tidak tahu karena beda latarbelakang. Dan bisa digunakan untuk budha atau Hindhu 


BAB V
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang terdapat di muka dan penjelasan yang sudah kami paparkan pada bab 2, maka dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa candi Brahu merupakan candi yang terbuat dari batu bata merah  yang terletak di desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, provinsi Jawa Timur.
Struktur  bangunan candi  Brahu terdiri dari kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Kaki candi terdiri dari bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai atas. Bingkai tersebut terdiri dari pelipit rata, sisi genta dan setengah lingkaran. Ukuran kaki candi Brahu ini 17,5 x 17 m. Atap candi Brahu ini berbentuk tidak beraturan, juga tidak  berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar. Candi Brahu dibangun dari batu bata merah yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok.
Masyarakat sekitar candi Brahu hidup sama seperti masyarakat di sekitar candi lainya, mereka hidup dengan cara bertani, hal ini terlihat pada saat Kuliah Kerja Lapangan 1 Jawa Timur- Bali, terlihat penduduk sekitar candi sedang mengerjakan lading ladang. Terlihat juga ada yang sedang memanen padi.
Mereka hidup dengan cara bertani, seperti masyarakat Jawa pada umumnya, mereka juga memiliki  kepercayaan. Adanya upacara-upacara untuk mengawali penanaman, memilih hari baik untuk menanam, memanen,dan lain sebagainya. Masyarakat sekitar candi Brahu sangat menjunjung tinggi kebudayaan yang ada pada daerah mereka. Mereka melestarikan tradisi yang ada darinenek moyang atau leluhur mereka hingga ada sampai sekarang.


B.   SARAN
1.    Sebaiknya jumlah dosen pembimbing dan guide lebih diperbanyak supaya lebih mudah dalam mengawasi peserta Kuliah Kerja Lapangan.
2.    Ada pembagian waktu yang jelas, sehingga semua objek Kuliah Kerja Lapangan dapat tercapaidan para peserta Kuliah Kerja Lapangan dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
3.    Waktu untuk penjelasan dari para guide terhadap objek yang diteliti lebih panjang, sehingga para peserta memperoleh data yang lebih detail.
4.    Mengenai panitia Kuliah Kerja Lapangan seharusnya dipilih oleh kelas, untuk menghindari kecurigaan dari para peserta Kuliah Kerja Lapangan.

C.   KRITIK
Kuliah Kerja Lapangan 1 Jawa Timur- Bali berjalan lancar. Akan tetapi, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan yang sifatnya tidak terduga dibutuhkan persiapan yang lebih matang. Mulai dari kesiapan peserta Kuliah Kerja Lapangan, dosen pembimbing, panitia yang mengurusi travel, guide, dan lain sebagainya, sehingga Kuliah Kerja Lapangan data berjalan dengan lancar dan lebih memuaskan.
      Ada beberapa hal yang perlu di benahi oleh semua pihak yang terlibat dalam Kuliah Kerja Lapangan, seperti:  
1.    Bagi seluruh peserta dan semua pihak yang terlibat dalam Kuliah Kerja Lapangan  agar lebih bisa mengkondisikan waktu dengan baik demi kelancaran Kuliah Kerja Lapangan.
2.    Para peserta agar bisa memanfaatkan waktu dengan lebih maksimal.
3.    Untuk travel agar bisa memberikan pelayanan yang lebih baik untuk semua peserta Kuliah Kerja Lapangan.






                            




 DAFTAR PUSTAKA
I Made Kusumajaya. Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di daerah Trowulan
 R. Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius
Sartono Kartodirjo, dkk. 1992. 700 Tahun Majapahit Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah  Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur


[1] Sartono Kartodirjo, dkk. 1992. 700 Tahun Majapahit Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah  Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur.hal 56
[2] I Made Kusumajaya. Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di daerah Trowulan. hal. 24
[3] R. Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.hal. 86
[4] Hal ini juga didasarkan pada nama candi Brahu itu sendiri, yaitu Bra yang merupakan sebutan raja dan hu yang artinya abu.
[5] Di sebelah utara merupakan tempat untuk pemukiman Budha di sana terdapat siti inggil atau biasa disebut lemah suro yag merupakan tempat tinggal Empu Barada. Disana juga terdapat petung Budha yang sedang tidur (Budha tidur).

1 komentar:

bang igoy mengatakan...

Sangat bermanfaat. Terima kasih.