BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Setelah Kertanegara meninggal dunia karena serangan dari
raja Jayakatwang, Raden Wijaya, menantu raja Kertanegara berusaha melanjutkan
dinasti Singhasari. Raden Wijaya berhasil melarikan diri dari serangan
Jyakatwang dan mengungsi ke desa Kudadu. Disana ia bersama prajuritnya mendapat
perlakuan yang sangat baik dari kepala desa Kudadu,. Mereka diberi tempat
tinggal untuk berteduh dan di jamu makanan. Setelah itu Raden Wijaya
melanjutkan perjalanan ke Madura untuk meminta bantuan Arya Wiraraja. Disana
Raden Wijaya diterima dengan baik, Raden Wijaya diberi nasihat Arya Wiraraja
yaitu dengan berpura-pura mengabdikan dirinya kepada raja Jayakatwang.
Berkat bantuan
Arya Wiraraja, Raden Wijaya berhasil diterima dan ia diberikan tanah di daerah
Tarik untuk di jadikan tanah daerah perburuan karena raja Jayakatwang mempunyai
hobi berburu binatang. Sementara itu, Arya Wiraraja mengerahkan penduduk Madura
untuk menghuni tanah Tarik tersebut. Seiring berjalanya waktu, tanah tersebut
di jadikan tempat untuk menyusun kekuatan Raden Wijaya ..
Kekuatan yang berhasil disusun Raden Wijaya tidak
diketahui raja Jakatwang. Hingga
akhirnya kedatangan tentara Tar-Tar di manfaatkan Raden Wijaya untuk
menghancurkan Jayakatwang. Tentara Tar-Tar dating untuk membalas dendam pada aja
Krtanegara atas penghinaan yang dilakukan pada Kubilai Khan. Dengan
meninggalnya Krtanegra, maka Jayakatwang lah yang diserang tentara Tar-Tar.
Pertempuran di menangkan Raden Wijaya dan Tentara Tar-Tar. Dan akhirnya ketika
Tentara Tar-Tar sedang merayakan kemenanganya , Tentara Raden Wijay
menggempurnya dan Terntara Tar-Tar pulang kembali ke negeri asalnya, yaitu
Cina.Tanah Traik tersebut diberi nama Majapahit, Raden Wijaya menjadi Raja
pertama di Majapahit. Ia, naik tahta pada tahun 1294 M.[1]
Kerajaan Majapahit berlangsung kurang lebih selama tiga
abad. Dalam waktu tiga abad ini banyak hasil kebudayaan yang ditinggalkan/ diwariskan
kepada kita. Peninggalan-peninggalan dari periode Majapahit itu antara lain
berupa bekas keraton, candi beserta arcanya, gapura,- gapura, maupun
kesastraan.
Salah satu peninggalan kerajaan Majapahit adalah Candi
Brahu, bahkan Candi Brahu ini di anggap lebih tua dari pada kerajaan Majapahit
itu sendiri. Letaknya di desa Bejijong. Candi Brahu telah banyak mengalami
kerusakan, hampir semua sisi dan bagian atasnya mengalami kerusakan , terutama
bagian depan. Candi Brahu dibuat dari batu bata, maka sukar sekali direkonstruksi.
Pada candi Brahu ini batu bata yang asli banyak yang telah lepas dari candi atau
bahkan ada yang sudah hilang.
Candi Brahu berdenah bujur sangkar, menghadap ke barat.
Pada keempat sisinya terdapat penampil (bagian yang menjorok keluar). Ruang
yang menghadap ke barat merupakan ruang utama, disini terdapat altar (tempat
sesaji) tetapi dinding temboknya sudah runtuh. Menurut cerita rakyat candi
Brahu adalah makam dari raja Brawijaya I sampai dengan IV.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
asal mula candi Brahu ?
2. Bagaimana
sejarah tentang candi Brahu?
3. Bagaimana
kehidupan sosial masyarakat disekeliling lokasi candi Brahu?
C.
TUJUAN
1. Untuk
mejelaskan asal mula candi Brahu.
2. Untuk
mengetahui sejarah candi Brahu.
3. Untuk
mengetahui kehidupan masyarakat disekitar candi Brahu.
D.
MANFAAT
1. Dapat
memberikan pengetahuan mengenai asal mula candi Brahu.
2. Dapat
memberikan pengetahuan tentang sejarah candi Brahu
3. Dapat
memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat sekitar candi Brahu
PEMBAHASAN
1. ASAL MULA CANDI BRAHU
a.
Letak
Candi
Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten
Mojokerto., propinsi Jawa Timur. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan
Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang,
terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit .Namun telah diaspal. Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan
kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya.[2]
b. Struktur bangunan
Struktur bangunan candi Brahu terdiri dari kaki candi, tubuh candi dan
atap candi. Kaki candi terdiri dari bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai
atas. Bingkai tersebut terdiri dari pelipit rata, sisi genta dan setengah
lingkaran. Dari penelitian yang terdapat pada kaki candi diketahui terdapat
susunan bata yang strukturnya terpisah, diduga sebagai kaki candi yang dibangun
pada masa sebelumnya. Ukuran kaki candi lama ini 17,5 x 17 m. Dengan demikian
struktur kaki yang sekarang merupakan tambahan dari bangunan sebelumnya. Kaki
candi Brahu terdiri dari dua tingkat dengan
selasarnya serta tangga di sisi barat yang belum diketahui bentuknya
dengan jelas.
Bentuk tubuh candi Brahu tidak tegas persegi, melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya
melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola
susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga
tidak berbentuk prisma bersusun atau
segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar. Candi Brahu dibangun
dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok.
Bagian tubuh candi Brahu sebagian besar merupakan susunan
batu bata baru yang dipasang pada masa
pemerintahan Belanda. Sebagian besar candi-candi di Trowulan dibangun
menggunakan batu bata merah, karena mengandung unsur religi atau kepercayaan..
Candi Brahu berukuran tinggi 27 m, didalamnya terdapat
bilik berukuran 4x4 m,.Namun kondisi lantainya telah rusak. Di kompleks candi ada semacam altar yang
berbentuk Mahameru. Pada waktu pembongkaran struktur bata pada bilik ini
ditemukan sisa-sisa arang yang kemudian dianalisa di Pusat Penelitian Tenaga
Atom Nasional (BATAN) di Yogyakarta. Hasil analisa tersebut menunjukkan bahwa pertanggalan radio
karbon arang candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410 hingga 1646 M.
Sebagai bahan perbandingan, cirri-ciri candi Jawa Timur
adalah bentuk bangunannya ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan,
puncaknya berbentuk kubus, makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya
ambang atasnya saja yang diberi kepala kala, reliefnya timbul sedikit saja dan
lukisanya simbolis menyerupai wayang kulit, letak candi di belakang halaman,
kebanyakan menghadap ke barat, sebagian besar terbuat dari batu bata merah[3]
Atap candi Brahu tingginya kurang lebih 6 m. Pada sudut
tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk
stupa. Berdasarkan gaya bangunan serta
profil sisa hiasan yang berdenah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai
bentuk stupa, para ahli menduga bahwa candi Brahu bersifat Budhis. Selain itu
diperkirakan candi Brahu umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi-candi yang
ada di situs Trowulan bahkan lebih tua dari kerajaan Majapahit itu sendiri. Dasar
dugaan ini adalah prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan kira-kira sekitar
45 m di sebelah barat candi
Brahu. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja Empu Sendok dari
Kahuripan pada tahun 861 Saka atau 9 September 939 M. Diantara isinya
menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu wanaru atau warahu. Nama istilah inilah
yang diduga sebagai asal nama candi Brahu sekarang.
Dari reliefnya, candi ini
adalah gambaran sinkretisme keagamaan antara agama Hindu dan agama Budha, Awalnya
candi ini berfungsi sebagai tempat pembakaran raja-raja Majapahit . Namun asumsi tersebut tidak terbukti. Dan dengan
gambaran sinkretisme tersebut, hingga saat ini pemeliharaan candi Brahu dilakukan
oleh kedua agama tersebut.
Berbeda dengan ritual pemujaan pada situs
pemujaan lainnya, di sini aktifitas tersebut dilakukan hanya dengan cara
meletakkan sesaji pada bagian depan dan pintu candi yang menghadap ke arah
barat.
Meskipun tidak
terbukti, menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai
tempat pembakaran jenasah dari raja Brawijaya I sampai IV. Akan tetapi, hasil
penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya
bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.
Candi
Brahu tidak berdiri sendiri, disekitarnya terdapat bangunan candi-candi lain, yaitu
candi Gentong Gedong dan candi Tengah. Di antara ketiga candi itu, hanya candi
Gentong yang masih terlihat sisa-sisanya, dan terletak di sebelah timur candi
Brahu. Di sekitar candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain :
* benda-benda semisal
perhiasan dari emas dan perak.
* 6 buah arca yang
bersifat agama Budha.
* piring perak yang
bagian bawah bertuliskan tulisan kuno.
* 4 lempeng prasati
tembaga dari jaman sindok.
2. SEJARAH
CANDI BRAHU
Candi Brahu sudah dibangun sebelum masa
pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan diperkirakan di bangun pada masa raja
Brawijaya I. Dapat dikatakan bahwa Candi Brahu merupakan candi yang paling tua
dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang ada di Trowulan. Candi ini merupakan pandarmaan dari raja
Brawijaya, mulai dari yang pertama sampai keempat. Memang candi ini telah di
restorasi, namun tidak bisa secara utuh karena kesulitan akibat bangunan candi
yang terbuat dari batu bata merah. Bisa
dikatakan bahwa bangunan yang sekarang berdiri itu sudah mengalami pembenahan
namun tetap masih candi yang lama, hanya sedikit tambahan saja.
Berdasarkan
bentuk stupa yang
ada pada sekitar candi, candi Brahu bersifat budhis. Kita tinggalkan
dulu mengenai candi Brahu, kita beralih ke Majapahit. Majapahit merupakan sebuah
kerajaan yang besar pada masa Hindu-Budha. Majapahit merupakan kerajaan Hindu.
Pusatnya dihutan Tarik, dengan raja pertama Raden Wijaya. Masa puncak
kejayaannya pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk yang berkolaborasi dengan
kejeniusan sang Maha Patih Gajah Mada dengan gagasan Nusantaranya. Banyak
peninggalan-peninggalan Majapahit yang terkenal di Trowulan, mulai dari candi
Bajang Ratu sampai candi Brahu. Kami disini sebagai penyusun akan membahas
mengenai candi Brahu saja.
Seperti
yang telah diterangkan
diatas bahwa candi Brahu merupakan
candi tertua di Trowulan yang dibangun untuk mengenang atau sebagai pendarmaan
dari raja Brawijaya yang pertama sampai keempat. Dan juga candi ini ada yang
mengatakan unsur budha, namun ada pula campuran dari Sywaisme.
Bisa kita telaah kepada masyarakat sekitar bahwa mulai dari budaya sampai
kesenian berkembang dan bahkan sekarang menjadi sebuah lapangan pekerjaan bagi
masyarakat Trowulan. Ada yang ahli lukisan, ada yang ahli patung dan
sebagainya. Tentunya ini menjadi sebuah aset budaya yang harus dipertahankan
oleh bangsa kita. bahwa kita memiliki sosio-budaya yang menarik dan luar biasa
dan tidak kalah bila dibnadingkan dengan bangsa asing. Bisa dilihat pula dengan
adanya hal demikian membantu perekonomian masyarakat Trowulan yang secara otomatis
akan membantu mengurangi pengangguran di Indonesia. Jikalau Indonesia (dalam
hal ini pemerintah) bisa memanfaatkan peninggalan-peninggalan sejarah dengan
baik dan mempergunakanya untuk kesejahteraan bangsa kita. Tentunya dengan
melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah tersebut tanpa mengurangi fungsi
dasarnya.
Candi Brahu sendiri diperkirakan usianya lebih tua dari
kerajaan Majapahit. Hal ini didasarkan pada prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan
kira-kira 45 masehi di sebelah barat
candi Brahu. Prasasti ini berangka tahun 861 saka atau 9 September 939 Masehi
atas perintah raja Empu Sindok dari Kahuripan.
Menurut masyarakat sekitar, candi Brahu berfungsi sebagai
tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya[4]. Akan tetapi berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan
adanya “bekas” abu atau mayat, melainkan keadaan bilik candi Brahu yang
sekarang sudah kosong.
Disekitar kompleks candi Brahu pernah
ditemukan benda-benda kuno, antara lain alat upacara dari logam, perhiasan dan
benda-benda dari emas, dan arca-arca logam di mana hal tersebut menunjukkan
adanya cirri-ciri agama Budha. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa
candi Brahu merupakan candi Budha[5].
3. KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR
CANDI
Kehidupan sosial masyarakat sekitar candi pada waktu
itu(di sekitar candi Brahu) kurang lebih sama seperti daerah kehidupan sosial
masyarakat sekitar peninggalan candi yang lainnya di situs Trowulan.Seperti
yang telah diterangkan oleh pemandu
waktu Kuliah Kerja Lapangan 1 Jawa Timur– Bali, masyarakat di sekitar candi
Brahu sangat menginternal sekali, di dalam diri mereka kebudayaan serta keahlian
para leluhurnya mereka hargai dan mereka terus lestarikan. Dengan adanya
regenerisasi kebudayaan tersebut mencerminkan bahwa masyarakat sekitar candi Brahu sangat menghargai,menghormati,
peduli serta menjunjung tinggi terhadap
kebudayaan leluhur mereka.
Perekonomian masyarakat sekitar candi Brahu sangat terbantu dengan keberadaan candi Brahu
tersebut. Masyarakat skitar candi Brahu juga mengenal dan mempercayai adanya hal-hal
yang bersifat ghaib. Kepercayaan yang bersifat ghaib tersebut merupakan hal yang mereka anggap penting untuk dilakukan demi kepentingan mereka.
Masyarakat sekitar candi Brahu memiliki keahlian, mereka hidup
dengan bertani. Hal ini terlihat seperti terlintas sewaktu hampir sampai di
lokasi candi Brahu yaitu lading-ladang yang sangat luas dan siap memanen(pada
waktu KKL).
Jadi dapat dikatakan kehidupan sosial mereka juga
terpengaruhi oleh kehidupan sosial kehidupan leluhur mereka. Seperti
upacara-upacara dalam hal pembangunan bangunan, pembuatan kesenian, dan lain
sebagainya. Hal ini tidak hanya dapat ditemikan di Trowulan,melainkan dapat
ditemukan hampir di seluruh wilayah
Jawa, kehidupan sosial masyarakat Jawa tidak jauh-jauh dari hal-hal klenik atau
sinkreitisme.
Mereka melakukan
upacara-upacara tertentu untuk meng-awali, dalam melakukan kegiatan, dan
sesudahmelakukan kegiatan keseharian, kegiatan-kegiatan
musiman, atau upacara-upacara ritual keagamaan. Mereka mempercayai upacara-upacara
itu sebagai suatu yang sakral dan merupakan suatu keharusan atau kewajiban yang apabila tidak mereka lakukan,
maka akan menimbulkan terjadinya hal-hal atau sesuatu yang tidak mereka
harapkan yang akan merugikan mereka sendiri .
WAWANCARA
“ CANDI BRAHU “
Menurut
hasil wawancara yang telah dilakukan pada prasasti alasantan, Candi Brahu
merupakan candi waharu atau candi pemujaan. Suatu penelitian ada candi kecil
ditengah nya, mungkin kalau sekarang mungin kalau orang muslim untuk mushola
baru dikembangkan menjadi measjid tetapi musholanya tidak dibongkar dan candi
ini merupakan candi yang tertua di Trowulan yang berumur 939, karena prasasti
alasantan itu ditemukan barat daya.
Pada waktu kerajaan Sindo jawa tengah kena
Praloyo dia hijrah ke Jawa Timur mendirikan ibu kota di daerah tembelang di
daerah Jombang karena di trowulan ada suatu bangunan candi yang di fungsikan
untuk acara ritual agama budha dan dijadikan tanah ini tanah sima atau tanah
percikan ( tanah bebas pajak ).
Dan sampai sekarang untuk ritual agama budha
prioritasnya ada disini, tapi untuk saat ini masyarakat trowulan tidak ada
agama budha. Untuk sampai saat ini ada peninggalan budha tetapi tidak ada
penganut agama budha tetapi sebagian besar dari Jawa Tengah dari Muntilan
dengan dari Surabaya. Jadi untuk sekarang daerah Trowulan belum ada masyarakat
yang menganut aliran agama budha, walaupun ada yayasan budhicenter yang disebut
Lumbini, itu pada tahun 85 untuk kawasan Trowulan disiapkan untuk salah satu
sarana peribadatan agama budha itu sudah berdiri mulai 85 bahkan mungkin patung
budha tidur ada disana. Dasarnya 939, pasti jamanya sendok wangsa isyana.
Sebetulnya
kalau dari kerajaan tetap dari Jawa tengah tetapi wangsa yang berbeda. Wangsa
isyana itu masuk ke Jawa timur, tapi disini belum ada bedirinya suatu kerajaan
atau pemerintahan yang ada. Dan batu bata yang baru itu direnovasi dari kantor
kami untuk mencoba merenovasi candi ini dengan prodak batu bata yang baru.
Bahwa usaha pelestarian dengan jangka waktu 15 tahun sudah banyak yang runtuh
atau hancur dibandingkan prodak yang dihasilkan pada waktu jaman Majapahit.
Karena dalam suatu pembuatan suatu bangunan kalo dikaitkan dengan religi itu
pasti kualitasnya lebih bagus dibandingkan yang tidak . dan sekarang orang
lebih mengalihkan ke khusus atau nilai gunanya, asal jadi atau bisa dipakai dan
tidak rumit dalam pembuatanya. Tetapi jaman majapahit tau kerajaan kerajaan
lain karena dikaitkan dengan religi maka prodaknya bertahan lama dan sangat
kuat walaupun terbuat dari batu bata.
Melakukan pemujaan cukup di halaman, jadi
menghadapnya ke bangunan candi.bagaimana pun batu bata sekuat apapun kalo
sering terinjak suatu bangunan akan runtuh. Jadi candi ini hanya untuk
memadukan agama hindu dan budha. Jadi perbedaan nya candi budha jawa tengah dan
jawa timur adalah reliefnya.
Tentang nama Brahun sendiri kebetulan
ditengah-tengah itu pernah ditemukan abu, dan abu ini setelah di suatau
penelitian di Jakarta bahwa abu itu tidak menunjukan candi ini berfungsi salah
satu tempat perabuan. Bukan candi pembakaran mayat, dengan ditemukanya abu
ditengah itu maka orang trowulan atau masyarakat trowulan menamakan Candi ini
candi Brahu, sebenarnya candi Brabu tetapi karena perkembangan perkembangan itu
menamakan Candi Brahu. Tetapi dasar Prasastinya, bukan candi Brahu tetapi candi
Waharu atau Candi Wrau itu yang ditulis di alasantan itu adalah Candi Wrau.
Sementara
ini yang dprioritaskan oleh pemerintah justru tidak ekspasi secara masal,
tetapi yang kita selamatkan adalah penemuan dari masyarakat, jadi jika
masyarakat melakukan penggalian dan bisa menemukan situs cagar budaya inilah
yang baru dprioritaskan. Disebelah Bajangratu ada sebuah kolam yang ditemukan
itu juga hasil galian masyarakat. Untuk sampai saat ini kita masih memberikan
suatu argument untuk masyarakat trowulan. Tapi untuk bentuk struktur itu masih
diabaikan, kecuali proses penemuan baik logam atau kramik yang rawan. Kita belum bisa membedakan itu candi atau
tidak bagi penganggapan masyarakat umum. Padahal yang maksudkan konsep sila
dinamakan candi pada suatu bangunan yang dikususkan untuk suatu pemujaan.
Jadi yang disebutkan bahwa candi itu, candi
ini ditemukan atau tidak difungsikan secara sacral upacara pemujaan agama
budha. Maka raja wajib menggantikan tanah tersebut tanah Sima. Jadi tidak
disebutkan hak milik siapa, kemungkinan berdiri lebih dari 939. Kita lihat saja
periodisasi mpu sendok. Dari awal berdirinya itu difungsikan untuk budha pada
waktu itu akhirnya berkembang ke Majapahit. Cuma pendirianya awal sebelum
Majapahit berdiri, masih digunakan oleh Majapahit karena ini jama hindhu budha
sampai sekarang. Jika sedang dilakukan ritual tidak sampai naik ketatas dan
hanya di bawah menatap patung Buddha. Kalau orang Hindhu nya jarang sekali
mengadakan kegitan disini, paling tidak bajangratu. Tapi tidak menutup
kemungkinan dari Bali juga mengadakan ritual disini, kita tidak tahu karena
beda latarbelakang. Dan bisa digunakan untuk budha atau Hindhu
BAB
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan yang terdapat di muka dan penjelasan yang sudah kami paparkan pada
bab 2, maka dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa candi Brahu merupakan candi
yang terbuat dari batu bata merah yang
terletak di desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, provinsi
Jawa Timur.
Struktur bangunan candi Brahu terdiri dari kaki candi, tubuh candi, dan
atap candi. Kaki candi terdiri dari bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai
atas. Bingkai tersebut terdiri dari pelipit rata, sisi genta dan setengah
lingkaran. Ukuran kaki candi Brahu ini 17,5 x 17 m. Atap candi Brahu ini
berbentuk tidak beraturan, juga tidak
berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak
dengan puncak datar. Candi Brahu dibangun dari batu bata merah yang direkatkan
satu sama lain dengan sistem gosok.
Masyarakat
sekitar candi Brahu hidup sama seperti masyarakat di sekitar candi lainya,
mereka hidup dengan cara bertani, hal ini terlihat pada saat Kuliah Kerja Lapangan
1 Jawa Timur- Bali, terlihat penduduk sekitar candi sedang mengerjakan lading
ladang. Terlihat juga ada yang sedang memanen padi.
Mereka
hidup dengan cara bertani, seperti masyarakat Jawa pada umumnya, mereka juga
memiliki kepercayaan. Adanya
upacara-upacara untuk mengawali penanaman, memilih hari baik untuk menanam,
memanen,dan lain sebagainya. Masyarakat sekitar candi Brahu sangat menjunjung
tinggi kebudayaan yang ada pada daerah mereka. Mereka melestarikan tradisi yang
ada darinenek moyang atau leluhur mereka hingga ada sampai sekarang.
B. SARAN
1. Sebaiknya
jumlah dosen pembimbing dan guide lebih diperbanyak supaya lebih mudah dalam
mengawasi peserta Kuliah Kerja Lapangan.
2. Ada
pembagian waktu yang jelas, sehingga semua objek Kuliah Kerja Lapangan dapat
tercapaidan para peserta Kuliah Kerja Lapangan dapat memanfaatkan waktu dengan
baik.
3. Waktu
untuk penjelasan dari para guide terhadap objek yang diteliti lebih panjang,
sehingga para peserta memperoleh data yang lebih detail.
4. Mengenai
panitia Kuliah Kerja Lapangan seharusnya dipilih oleh kelas, untuk menghindari
kecurigaan dari para peserta Kuliah Kerja Lapangan.
C. KRITIK
Kuliah Kerja Lapangan 1 Jawa Timur- Bali berjalan lancar.
Akan tetapi, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan yang sifatnya
tidak terduga dibutuhkan persiapan yang lebih matang. Mulai dari kesiapan
peserta Kuliah Kerja Lapangan, dosen pembimbing, panitia yang mengurusi travel,
guide, dan lain sebagainya, sehingga Kuliah Kerja Lapangan data berjalan dengan
lancar dan lebih memuaskan.
Ada
beberapa hal yang perlu di benahi oleh semua pihak yang terlibat dalam Kuliah
Kerja Lapangan, seperti:
1. Bagi
seluruh peserta dan semua pihak yang terlibat dalam Kuliah Kerja Lapangan agar lebih bisa mengkondisikan waktu dengan
baik demi kelancaran Kuliah Kerja Lapangan.
2. Para
peserta agar bisa memanfaatkan waktu dengan lebih maksimal.
3. Untuk
travel agar bisa memberikan pelayanan yang lebih baik untuk semua peserta
Kuliah Kerja Lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
I Made Kusumajaya.
Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di daerah Trowulan
R. Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah
Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius
Sartono Kartodirjo,
dkk. 1992. 700 Tahun Majapahit Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata
Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa
Timur
[1]
Sartono Kartodirjo, dkk. 1992. 700 Tahun Majapahit Suatu Bunga Rampai.
Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah
Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur.hal 56
[2] I Made Kusumajaya.
Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di daerah Trowulan. hal. 24
[3] R. Soekmono. 1973. Pengantar
Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.hal. 86
[4] Hal ini juga
didasarkan pada nama candi Brahu itu sendiri, yaitu Bra yang merupakan sebutan
raja dan hu yang artinya abu.
[5] Di sebelah utara
merupakan tempat untuk pemukiman Budha di sana terdapat siti inggil atau biasa
disebut lemah suro yag merupakan tempat tinggal Empu Barada. Disana juga
terdapat petung Budha yang sedang tidur (Budha tidur).
1 komentar:
Sangat bermanfaat. Terima kasih.
Posting Komentar